Wednesday, February 22, 2012

Sri Handayani

Sri Handayani, 29, pengacara kondang di dunia fana maupun dunia ghaib. Rambut pirang, suara lugas, watak keras. Ia menguji iman, ketulusan hati, dan isi pikiran saya sebelum menandatangani persetujuan pengangkatan saya menjadi iparnya. Berulang kali ia berkata akan membalas setiap orang yang baik kepadanya berkali-kali lipat, tetapi jangan coba-coba menyakiti hatinya. “Liat aja, habis kalian!” ia mengancam.

Banyak kisah tentang dirinya yang tak pernah saya lupakan. Salah satunya mengenai pernikahan pertamanya yang kandas. Di kamar ganti pengantin ia menunggu mempelai pria. Tamu-tamu telah berkumpul. Pesta siap dimulai. Sayang, bukan mempelai pria yang datang, tetapi Paman.

“Ada apa, Paman?”

Paman memeluknya. Paman berbisik kepadanya. “Aku ingin kamu habisi semuanya.”

Dengan masih memakai gaun pengantin putih, Ia dan Paman naik kereta kencana dan meluncur cepat. Keduanya turun dan memasuki tempat dimana orang berkerumun. Ia terobos semua orang menuju pasangan yang berdiri di pelaminan. Paman duduk di kursi belakang.

Ia tak mengijinkan mempelai pria berbicara. Tangannya menengadah ke atas dan turunlah senjata.

“Kau bilang ingin mati di dadaku? Sekarang kau mati di tanganku!”

Ia tebas kepala pria yang seharusnya mengucap ikrar padanya di depan saksi. Ia potong badannya menjadi dua bagian. Ia ambil darah mayat calon suaminya dengan tangan dan ia usapkan ke gaun pengantin. Saya bisa membayangkan bagaimana semua tamu membelalak. Keluarga yang sedang berpesta menghadang. Ia angkat senjatanya lagi di depan mereka. Siapa yang berani melawan panglima perang?

Ia ayunkan pedang pada kedua calon mertuanya, calon ipar-iparnya, dan semua keluarga cinta pertamanya musnah sudah. Gaun pengantin telah berwarna merah. Tak ada yang berani melawan. Ia hampiri mempelai wanita yang masih berdiri di pelaminan bersanding dengan 3 potong bagian suaminya.

“Takkan kubunuh kau. Biar kau rasa kehilangan pria yang kau cinta”.

Ia ambil mikrofon di panggung dan berbicara, “Maaf para undangan, ini masalah harga diri!”

Paman menunggunya. Mereka pulang.


Another Planet

Saya terbangun di pagi hari dengan harapan pupus. Saya tak ingin terbangun di dunia ini lagi. Atas segala masalah dan kekacauan yang saya alami, saya ingin pergi. Melarikan diri. Jantung saya berdegup cepat. Badan saya lemas. Rendah darah membuat keringat di tangan. Sial betul kalau hal ini terjadi saat presentasi! Kemudian saya akan dehidrasi. Dan sulit fokus. Untunglah hari ini tak ada presentasi.

Saya tengok suami saya berbaring di kiri. Pulas ia memeluk saya. Jam berapa kamu tidur, Mas? Kalau aku tidur jam sebelas malam, kamu masih main Zuma sambil ngelonin aku. Aku bangun jam lima pagi ini, berarti kamu sedang tidur sore? Siang di duniamu, malam di duniaku.

Wake up, honey! Bring me to your world!

Biar aku yang datangi sumur tua itu dan menyusuri jalan disana. Menuju rumahmu. Biar aku yang menemuimu. Bolehkah?

Tidak, ingatlah Mama yang tengah menunggu hari pernikahan kita. Biar aku yang meninggalkan segala-galanya untukmu. Karna sekali kamu pergi, kamu tak akan pernah kembali. Saya dengar ia menjawab dalam tidurnya.

Saya pandangi wajahnya. Ingat santet yang menusukmu, Mas? Rasanya saya ingin belajar supaya bisa membalaskan dendam pada mereka yang pernah menyakiti saya. Ah..! Cepat-cepat saya kosongkan pikiran sebelum terbaca olehnya.

Mari bangun dan bikin kopi.